WELCOME TO MY BLOG
FAQIH MUTA'ALIM

Selasa, 17 November 2015

Saya Tak berdo'a untuk PARIS

Kemarin, beberapa saat setelah terror Paris, seperti kebanyakan orang, saya mengunggah gambar "Pray for Paris". Seolah saya turut bersedih. Seolah saya turut berdoa. Padahal tidak!

Pagi ini saya memutuskan untuk menghapus gambar-gambar itu dari beberapa akun media sosial yang saya punya. Saya tidak berdoa untuk Paris. Tak. Dan mengapa saya harus melakukannya? Mengapa saya harus mengutuk sebuah kejadian di mana seekor anjing yang dilatih untuk menyerang orang lain menggigit teman dari tuannya sendiri?

Saya bosan dengan semua sentimen Islamofobik yang memojokkan Islam. Saya muak dengan semua permaianan politik tingkat tinggi yang dirancang sedemikian rupa untuk mencitrakan Islam sebagai agama teror. Saya jengah dengan semua pemberitaan yang menggiring kesadaran publik pada keyakinan bahwa Islam adalah biang kerok di balik semua petaka yang menimpa dunia.

Sementara kita sering mengabaikan betapa Amerika Serikatlah yang punya andil besar untuk membentuk dan mempersenjatai ISIS. Dan apakah ISIS adalah representasi Islam dan kaum Muslim? Tentu bukan!

Kita lupa bahwa negara-negara Barat juga punya andil penting dalam berbagai peperangan yang terjadi di belahan bumi lainnya. Siapa yang tak terlibat dalam genosida paling terstruktur di Palestina? Dan berapa banyak negara Barat yang tak turut mengirimkan pasukan bersenjata untuk menghancurkan Irak dan Afghanistan? Sedikit sekali!

Betapa naif jika kita hanya mengutuk ISIS sementara melupakan kejahatan perang yang dilakukan Amerika Serikat dan negara-ngara Barat lainnya di aneka belahan dunia? Jika memang mereka tak suka kejahatan terhadap kemanusiaan, jika mereka mengutuk semua aksi pembunuhan terhadap warga sipil yang tak bersalah, tak usah melihat apa agama si pelaku teror. Tak usah tebang pilih! Kutuk dan bencilah semuanya: Semua yang menbunuh, semua yang melakukan kejahatan kemanusiaan, adalah musuh kita semua!

Hentikan semua produksi senjata. Tarik semua pasukan dari daerah perang. Sungguh-sungguhlah dalam menciptakan perdamaian dunia--yang bukan cuma retorika. Berhentilah merasa menjadi pejuang kemanusiaan padahal di saat yang sama melakukan pembunuhan lainnya atas nama kemanusiaan.

Mengapa begitu mudah membuat aksi solidaritas untuk mendukung negara tertentu, sementara begitu sulit menyatakan dukungan untuk negara-negara Muslim yang jutaan warganya menjadi korban setiap tahunnya? Mengapa takut dan enggan untuk membela orang Islam? Mengapa harus selalu sama dengan sikap Amerika dan negara-negara sekutunya? Mengapa media begitu tak adil sekaligus hipokrit?

Saya tak berdoa untuk Paris. Meski saya bersedih atas kematian dan korban yang jatuh dalam tragedi 13 November lalu di sana. Saya mendoakan mereka sebagai sesama manusia. Saya berdoa untuk kemanusiaan kita, juga untuk kenaifan dan kebodohan kita melihat situasi yang sedang terjadi. Semoga kita semua sadar bahwa ini bukan tentang Paris saja. Saya berdoa untuk semua tragedi kemanusiaan di belahan dunia manapun. Saya mengutuk semua yang melakukan teror dan kejahatan terhadap kemanusiaan, apapun agamanya.

... Dan, ya, terorisme tak punya agama!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar